Skip to content

Istilah Baru Kurikulum 2026: Panduan Lengkap

Pelajari istilah baru kurikulum 2026 yang wajib diketahui guru, orang tua, dan siswa. Panduan lengkap dan mudah dipahami ada di sini.

Istilah Baru Kurikulum 2026: Panduan Lengkap

---

Memahami istilah baru kurikulum 2026 adalah langkah pertama yang harus dilakukan oleh siapa pun yang terlibat dalam dunia pendidikan Indonesia — baik guru, orang tua, maupun siswa. Perubahan kurikulum bukan sekadar pergantian nama atau dokumen; ia membawa paradigma baru yang memengaruhi cara belajar, cara mengajar, hingga cara menilai perkembangan anak di kelas. Artikel ini merangkum istilah-istilah penting tersebut secara ringkas dan praktis agar Anda tidak tertinggal.

---

Mengapa Istilah Baru dalam Kurikulum Perlu Dipahami?

Setiap kali kurikulum nasional diperbarui, muncul kosakata teknis yang terasa asing di telinga. Tanpa pemahaman yang tepat, guru bisa salah menerapkan pendekatan pembelajaran, dan orang tua bisa kesulitan memantau perkembangan anak.

Kurikulum Merdeka, yang diluncurkan oleh Mendikbudristek pada Februari 2022, menjadi tonggak perubahan besar. Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek, Anindito Aditomo, menyatakan bahwa sebanyak 80 persen sekolah di Indonesia di semua jenjang sudah menerapkan Kurikulum Merdeka untuk menggantikan kurikulum sebelumnya [2]. Angka ini terus berkembang sejak awal 2022 dan menjadi bukti bahwa pemahaman atas istilah-istilah baru ini bukan lagi sekadar pilihan — melainkan keharusan.

Kini, dengan terbitnya Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026, sejumlah istilah kembali mengalami penyesuaian untuk memperkuat esensi pembelajaran yang lebih berpihak pada murid [7]. Memahami perubahan ini sedini mungkin akan membantu semua pihak beradaptasi dengan lebih lancar.

---

Istilah Baru Kurikulum 2026 Berdasarkan Permendikdasmen

Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 membawa sejumlah istilah yang menekankan pergeseran paradigma: dari kurikulum yang berpusat pada konten, menuju kurikulum yang menjaga martabat murid dan membebaskan proses belajar dari tekanan yang tidak perlu [7].

Perubahan Paradigma Utama

  • Pembelajaran Berdiferensiasi — Pendekatan di mana guru menyesuaikan strategi mengajar berdasarkan kebutuhan, minat, dan kemampuan masing-masing murid.
  • Asesmen Formatif dan Sumatif — Penilaian tidak lagi hanya berfokus pada nilai akhir, tetapi juga pada proses belajar yang berlangsung sehari-hari.
  • Martabat Murid — Istilah ini menekankan bahwa esensi pembelajaran adalah menjaga harga diri dan kebebasan murid dalam proses belajar, bebas dari tekanan yang kontraproduktif [7].

Perubahan ini bukan sekadar ganti nama. Ia mencerminkan komitmen pemerintah untuk menjadikan ruang kelas sebagai tempat yang aman, menyenangkan, dan relevan bagi generasi muda.

---

7 Istilah Inti dalam Kurikulum Merdeka yang Masih Relevan

Sebelum memahami istilah terbaru, penting untuk menguasai fondasi dari Kurikulum Merdeka yang menjadi basis kebijakan pendidikan saat ini. Berikut adalah istilah-istilah inti yang wajib dipahami [5][1]:

1. Capaian Pembelajaran (CP)

Capaian Pembelajaran adalah kompetensi dan karakter yang ingin dicapai setelah murid menyelesaikan satu fase pendidikan tertentu. CP menggantikan Kompetensi Dasar (KD) yang digunakan dalam Kurikulum 2013 [1][5].

2. Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

ATP adalah rangkaian tujuan pembelajaran yang disusun secara logis dan sistematis untuk mencapai CP. Guru dapat menyusun ATP sendiri atau menggunakan contoh yang disediakan pemerintah [5].

3. Modul Ajar (MA)

Modul Ajar adalah perangkat pembelajaran yang dikembangkan guru sebagai panduan mengajar. Ia lebih fleksibel dibandingkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dalam kurikulum sebelumnya [1][5].

4. Profil Pelajar Pancasila

Ini adalah gambaran kompetensi dan karakter ideal yang ingin dibentuk melalui seluruh proses pembelajaran. Profil ini mencakup enam dimensi: beriman dan bertakwa, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif [2][5].

5. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)

P5 adalah kegiatan pembelajaran berbasis proyek yang dirancang untuk memperkuat karakter murid di luar pembelajaran reguler [1][5].

6. Fase Pembelajaran

Kurikulum Merdeka membagi jenjang pendidikan ke dalam fase A hingga F, bukan per kelas. Ini memberi fleksibilitas bagi guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kesiapan murid, bukan sekadar usia atau tingkat kelas [1].

7. Asesmen Diagnostik

Asesmen ini dilakukan di awal pembelajaran untuk mengetahui kondisi awal murid — baik dari sisi kognitif maupun non-kognitif — sehingga guru dapat merancang strategi yang tepat [5].

---

Perbandingan Istilah Lama dan Baru: Apa yang Berubah?

Salah satu sumber kebingungan terbesar bagi para pendidik adalah perubahan nama istilah yang sebenarnya merujuk pada konsep serupa, namun dengan nuansa yang berbeda. Berikut perbandingan singkatnya [8][2]:

| Istilah Lama (K-2013) | Istilah Baru (Kurikulum Merdeka/2026) | |---|---| | Kompetensi Dasar (KD) | Capaian Pembelajaran (CP) | | RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) | Modul Ajar (MA) | | Silabus | Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) | | Program Semester (Promes) | Prosem (tetap, namun dengan pendekatan berbeda) | | KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) | KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran) |

Perubahan dari KKM menjadi KKTP adalah salah satu yang paling signifikan. KKTP tidak lagi dinyatakan dalam angka tunggal, melainkan dalam deskripsi kualitatif yang menggambarkan sejauh mana murid telah mencapai tujuan pembelajaran [2][8].

---

Peran Gizi dan Kesejahteraan Murid dalam Kurikulum Baru

Kurikulum yang baik tidak bisa berdiri sendiri tanpa memperhatikan kondisi murid secara menyeluruh. Salah satu faktor krusial yang memengaruhi kualitas belajar adalah gizi dan kesehatan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pemerintah menjadi bagian dari ekosistem pendukung pendidikan berkualitas. Jika Anda penasaran bagaimana respon generasi muda terhadap program ini, artikel Gen Z Puas dengan MBG: Mengapa Generasi Muda Paling Mendukung Program Makan Bergizi Gratis? memberikan perspektif yang menarik dan relevan.

Murid yang terpenuhi kebutuhan gizinya terbukti lebih mudah berkonsentrasi, lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan P5, dan lebih siap menghadapi asesmen formatif yang kini menjadi bagian inti dari kurikulum baru.

---

Tips Praktis Memahami Istilah Baru Kurikulum untuk Orang Tua dan Guru

Memahami istilah bukan berarti harus menghafal definisi teknis. Yang lebih penting adalah memahami semangat di balik setiap istilah tersebut.

Untuk Guru:

  • Ikuti pelatihan resmi dari Kemendikbudristek atau platform mitra seperti Platform Merdeka Mengajar (PMM).
  • Berdiskusi dengan rekan sejawat untuk berbagi pemahaman tentang ATP dan Modul Ajar.
  • Gunakan sumber terpercaya untuk memperdalam pemahaman tentang CP dan fase pembelajaran [1][2].
  • Ingat bahwa Modul Ajar bersifat fleksibel — Anda boleh memodifikasinya sesuai konteks sekolah dan kebutuhan murid [5].

Untuk Orang Tua:

  • Tanyakan kepada guru mengenai fase pembelajaran anak Anda dan apa yang menjadi fokus di fase tersebut.
  • Pahami bahwa rapor kini berisi deskripsi kualitatif, bukan sekadar angka — ini lebih informatif untuk memahami perkembangan anak.
  • Dukung kegiatan P5 di rumah, karena projek ini sering memerlukan keterlibatan keluarga dan komunitas.
  • Perhatikan bahwa asesmen diagnostik di awal tahun ajaran adalah bagian normal dari proses — bukan "ujian" yang perlu ditakuti.

Untuk Siswa:

  • Pahami bahwa belajar bukan tentang nilai semata, tetapi tentang proses dan karakter yang terbentuk.
  • Berpartisipasi aktif dalam P5 karena ini adalah ruang untuk mengeksplorasi minat dan bakat.
  • Manfaatkan asesmen formatif sebagai umpan balik untuk berkembang, bukan sebagai penilaian akhir [5][1].

---

Kesimpulan

Memahami istilah baru kurikulum 2026 adalah investasi penting bagi siapa saja yang peduli pada kualitas pendidikan Indonesia. Dari Capaian Pembelajaran hingga Martabat Murid, setiap istilah membawa filosofi yang lebih dalam tentang bagaimana seharusnya proses belajar berlangsung — lebih manusiawi, lebih kontekstual, dan lebih bermakna.

Dengan 80 persen sekolah yang telah mengadopsi Kurikulum Merdeka [2], dan kini diperkuat oleh Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 [7], perubahan ini bukan sekadar kebijakan di atas kertas. Ia adalah transformasi nyata yang sedang berlangsung di ruang kelas seluruh Indonesia.

Langkah selanjutnya: Bagikan artikel ini kepada rekan guru, orang tua murid, atau siapa pun yang ingin memahami lanskap pendidikan Indonesia terkini. Semakin banyak yang memahami istilah-istilah ini, semakin efektif implementasinya di lapangan.

---

Sources

[1] Aku Pintar — Platform Belajar Cerdas — https://akupintar.id/info-pintar/-/blogs/istilah-baru-yang-ada-di-kurikulum-merdeka [2] Istilah dalam Kurikulum Merdeka yang Wajib Diketahui (18 Oct 2023) — https://adminsekolah.net/istilah-istilah-dalam-kurikulum-merdeka-yang-wajib-diketahui-pengajar/ [3] Istilah Baru dalam Kurikulum Merdeka | PDF — https://id.scribd.com/document/724837998/ISTILAH-BARU-DAN-POPULER-DALAM-KURIKULUM-MERDEKA-BELAJAR [4] Sudah tau istilah ini? Yuk, kenali dan pahami istilah baru — https://www.instagram.com/p/DRMFZ6tkWHS/?hl=en [5] 7 Istilah Dalam Kurikulum Merdeka Belajar yang Harus Dipahami (9 Jun 2023) — https://www.quipper.com/id/blog/info-guru/istilah-dalam-kurikulum-merdeka-belajar-yang-harus-dipahami-guru/ [6] New Terms in the Merdeka Curriculum — https://www.youtube.com/watch?v=cxyXeeQfm74 [7] Mengenal Istilah Baru dalam Dunia Pendidikan Pasca Permendikdasmen 2026 — https://min4tebo.mdrsh.id/news/58899/perubahan-paradigma-mengenal-istilah-baru-dalam-dunia-pendidikan-pasca-terbitnya-permendikdasmen-2026.html [8] Ganti Istilah (saja) (6 Aug 2023) — https://pui.or.id/ganti-istilah-saja/

Articles